Pernikahan adalah tahap yang serius dan penuh tanggung jawab dalam hidup kita. Ini adalah pembentukan negara kecil kita sendiri yang disebut “Keluarga”, di mana—atas kehendak Yang Maha Kuasa—suami akan menjadi kepala rumah tangga, dan Anda akan menjadi pendampingnya.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
«Pernikahan adalah bagian dari sunnahku, dan siapa yang berpaling dari sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku.» (al-Bukhari, Muslim).
Ajukan pertanyaan yang spesifik
Berkomunikasi tentang topik-topik abstrak, seperti membahas peristiwa dunia, hanya akan membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk percakapan yang produktif. Ajukan pertanyaan yang spesifik. Tidak ada yang memalukan dalam hal ini. Justru sebaliknya, calon suami akan melihat keseriusan niat Anda.
Bagaimana mungkin mengenal seseorang—sifatnya, pandangannya, keluarganya—jika Anda tidak bertanya secara langsung? Jika calon suami memiliki masalah kesehatan yang serius, konflik dengan kerabat, atau utang keuangan, semua ini perlu diketahui sebelum nikah. Jika tidak, besar kemungkinan timbul kekecewaan dan bahkan perceraian karena ketidakjelasan.
Kami mengetahui kasus-kasus ketika seorang istri baru mengetahui setelah nikah bahwa suaminya memiliki utang besar. Akibatnya, kehidupan rumah tangga harus dimulai dengan beban utang.
Jika para perempuan menanyakan secara spesifik tentang pekerjaan, kesehatan, utang, dan keluarga, mereka dapat menghindari pernikahan yang penuh dengan kejutan tidak menyenangkan. Sebagaimana Anda lihat, pertanyaan yang diajukan dengan benar kepada calon suami adalah kunci untuk membangun keluarga yang kuat.
Jangan bersikap sembrono
Apakah banyak orang yang membeli peralatan secara spontan tanpa terlebih dahulu mempelajari karakteristik, kelebihan, dan kekurangannya? Biasanya, mencari model yang tepat membutuhkan waktu yang cukup. Demikian pula dengan pernikahan.
Kami berusaha membantu Anda menemukan pasangan yang potensial, karena itu kami tidak menerima sikap sembrono dalam perkara ini. Jika Anda menyadari bahwa niat untuk menikah belum mantap, kami dengan senang hati menunggu Anda kembali ke situs kami di lain waktu.
Jika Anda serius, kami telah menyusun daftar pertanyaan yang akan membantu Anda terutama untuk mengenal agama dan karakter calon suami. Mengapa agama didahulukan? Karena laki-laki yang jauh dari ketaatan beragama sering kali hidup dengan “aturan mereka sendiri” dan membolehkan apa yang tidak diizinkan oleh Allah. Akibatnya, mereka bisa menjadi pribadi yang keras dan berakhlak buruk.
Apa yang perlu saya tanyakan kepada calon suami?
1. Sudah berapa tahun ia menunaikan salat?
Yang dimaksud adalah pelaksanaan salat (namaz), bukan sekadar masuk Islam atau hidup di lingkungan Muslim. Sebab sebagian orang lahir di keluarga “Muslim etnis” dan mengira sejak kecil telah taat, padahal baru belakangan ini mulai mempelajari dan menjalankan ajaran agama.
2. Bagaimana ia menjalankan perintah-perintah agama?
Berikan kesempatan kepadanya untuk menjawab pertanyaan terbuka ini terlebih dahulu. Jika ia kesulitan, berikan petunjuk: ibadah apa saja yang ia lakukan, seberapa sering, dan dari mana ia mempelajari tata caranya.
3. Apakah ia bisa membaca Al-Qur’an?
Ketahui sejauh mana keinginannya untuk menuntut ilmu dan pahala dari Allah melalui bacaan Al-Qur’an yang benar.
4. Seberapa sering ia membaca Al-Qur’an?
Kecintaan dan kerinduan terhadap Al-Qur’an menunjukkan kecintaan kepada Allah.
5. Bagaimana hubungannya dengan anggota keluarganya (orang tua, saudara kandung, paman dan bibi, dll.)?
- Allah memerintahkan untuk menjaga silaturahmi, yang mendatangkan banyak kebaikan. Memutuskannya membawa banyak keburukan.
- Jika ia tidak dapat memperbaiki hubungan dengan kerabatnya, bagaimana ia akan menemukan kesepahaman dengan keluarga Anda?
6. Bagaimana sikapnya terhadap menuntut ilmu?
- Apakah ia berusaha menuntut ilmu agama?
- Apakah ia akan mendukung Anda jika Anda ingin menuntut ilmu?
- Bagaimana dan apa yang akan ia ajarkan kepada Anda dan anak-anak?
7. Apa arti “ketaatan istri kepada suami” menurutnya?
Ketahui pemahamannya tentang hal ini dan bandingkan dengan pandangan Anda: apakah sejalan?
8. Bagaimana ia membayangkan sikapnya terhadap istrinya?
Dengarkan dengan saksama dan, jika perlu, ajukan pertanyaan lanjutan yang memperjelas.
9. Berapa banyak anak yang ingin ia miliki?
Dapatkan gambaran niatnya terkait jumlah anak dan waktu kelahiran mereka.
10. Di mana dan dengan siapa kita akan tinggal?
Jika tidak diketahui sejak awal, keputusan ini sepenuhnya diserahkan kepada calon suami. Ada kasus ketika seorang suami membawa istrinya tinggal di satu kamar dalam apartemen tiga kamar yang dua kamar lainnya ditempati oleh dua keluarga lain. Perempuan yang tidak menanyakan hal ini sebelumnya tentu akan terkejut.
11. Apa yang ia maksud dengan “menafkahi istri”?
Pastikan Anda memiliki pandangan yang sama tentang hal ini.
12. Apakah ia akan bermusyawarah dengan istrinya dalam urusan penting (pindah tempat tinggal, pembelian besar, dll.)?
Hal ini membantu menjaga keharmonisan keluarga dan memungkinkan Anda merencanakan hidup, serta menghindari situasi di mana Anda harus tiba-tiba mengubah rencana karena keputusan sepihak.
14. Berapa banyak waktu yang bersedia ia curahkan untuk istrinya?
Ketahui seberapa besar perhatian yang siap ia berikan.
15. Apakah ia akan mengizinkan istrinya keluar rumah dan seberapa sering (jalan-jalan, ke toko, bertemu saudari-saudari, dll.)?
Ada suami yang tidak keberatan dengan aktivitas tersebut, dan ada pula yang melarangnya sama sekali. Lebih baik mengetahui pandangannya sejak awal.
16. Apakah ia mengizinkan istrinya bekerja secara online (melalui internet) atau offline?
Ketahui pendapatnya jika Anda ingin bekerja.
17. Bagaimana ia memandang pendidikan dan pengasuhan istri serta anak-anak?
Lihat apakah ia berniat mendidik istri dan anak-anak, baik dalam agama maupun keterampilan profesional yang bermanfaat jika terjadi perceraian, wafat, atau ketidakmampuan suami.
18. Di mana ia bekerja dan apa cita-citanya?
Ketahui kemampuannya dalam menafkahi keluarga dan tujuan hidupnya ke depan.
19. Apakah ia rapi?
Tidak harus sangat rapi; yang terpenting adalah Anda merasa nyaman untuk kehidupan yang tenang.
20. Apakah ia pekerja keras?
- Apakah ia akan berusaha maksimal untuk menafkahi keluarga?
- Apakah ia akan membantu pekerjaan rumah di waktu luangnya?
21. Bagaimana karakternya: lembut, halus, sopan, keras, kasar, tegas?
Kesan awal bisa menipu; seseorang yang tampak lembut bisa saja keras dalam kehidupan nyata, atau sebaliknya.
22. Bagaimana pandangannya tentang pendidikan anak?
Ketahui prinsip-prinsipnya dalam mendidik anak.
23. Utang dan kewajiban apa yang ia miliki?
- Ketahui apakah sebagian anggaran keluarga akan digunakan untuk melunasi utangnya.
- Jika ia memiliki pinjaman berbunga dari bank, ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap larangan riba.
- Jika ia memiliki nazar atau kewajiban lain, ketahui apakah ia akan menunaikannya dan dampaknya bagi keluarga.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan membantu menyimpulkan apakah saudara seiman tersebut cocok menjadi suami atau sebaiknya komunikasi dihentikan.
Kami mendoakan agar Anda menemukan laki-laki yang layak untuk nikah dan menjadi istri terbaik baginya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
«Sebaik-baik perempuan di antara kalian adalah yang penuh kasih, banyak melahirkan, taat dan menyesuaikan diri dengan suaminya jika mereka bertakwa kepada Allah…» (al-Bayhaqi).
Semoga Yang Maha Kuasa menolong Anda membuat pilihan yang tepat!


