Kami telah menciptakan layanan ini agar para saudara dan saudari dalam Islam dapat saling mengenal tanpa melanggar ketentuan Syariah. Di nikahplus.com terdapat korespondensi antara calon pasangan, dan korespondensi ini memiliki aturan tertentu yang ditetapkan oleh Islam.
1. Sebelum memulai perkenalan, Anda harus memiliki niat yang kuat untuk melangsungkan nikah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
«Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.» (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penting untuk diingat bahwa Allah Yang Maha Tinggi melihat segala isi hati kita. Jika Anda memulai korespondensi hanya untuk sekadar berbincang, karena rasa ingin tahu atau kebosanan, maka hal itu akan dianggap sebagai dosa, bukan amal kebaikan.
2. Komunikasi, baik percakapan langsung maupun korespondensi, antara seorang Muslim dan Muslimah yang bukan mahram hanya diperbolehkan dengan adanya pengawasan (saksi). Nabi Muhammad ﷺ memperingatkan:
«Jika seorang laki-laki menyendiri dengan seorang perempuan asing, maka yang ketiga di antara mereka adalah setan.» (Tirmidzi, Ibnu Majah).
Di situs kencan Muslim kami, khalwat (berduaan yang terlarang) antara laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan. Seluruh korespondensi diawasi oleh moderator. Mereka memastikan bahwa pesan tidak mengandung godaan, kalimat tidak senonoh, ataupun penghinaan.
3. Anda tidak boleh terlibat dalam percakapan kosong. Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh menjadi sekadar sahabat pena. Ajukan pertanyaan yang spesifik untuk membantu Anda mengambil keputusan tentang pernikahan. Perlu diketahui akhlak, tingkat keberagamaan, hubungan dengan keluarga, kondisi keuangan, tempat tinggal, dan lain-lain. Daftar pertanyaan rinci untuk calon suami dapat Anda temukan di sini, dan apa yang perlu ditanyakan kepada wali perempuan atau kepadanya sendiri dijelaskan dalam artikel tersebut.
Ingatlah, Anda harus menulis dengan kata-kata yang dapat dibaca oleh wali atau saksi laki-laki tanpa menimbulkan rasa malu atau ketidaknyamanan.
Jika ada sesuatu yang disembunyikan, itu adalah jalan menuju hal yang haram. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
«Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.» (QS. Al-Isra: 32).
4. Pastikan Anda menuliskan nama asli dan menjawab pertanyaan dengan jujur.
Rasulullah ﷺ tidak menyukai kebohongan, bahkan dalam perkara kecil. Beliau bersabda:
«Sesungguhnya termasuk dusta yang paling besar adalah seseorang menceritakan bahwa ia melihat sesuatu dalam mimpi padahal ia tidak melihatnya.» (al-Bukhari)
Banyak orang tidak menganggap berdosa melebih-lebihkan cerita tentang diri mereka demi memberi kesan baik, padahal itu keliru.
Pertama, kebohongan menghilangkan keberkahan dari Allah.
Kedua, ketidakjujuran dapat menimbulkan masalah dalam keluarga di masa depan, bahkan berujung pada perceraian. Terutama dalam hal kesehatan. Misalnya, sama sekali tidak dibenarkan menyembunyikan kemandulan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Pihak lain berhak mengetahui hal ini dan mengambil keputusan dengan sadar, karena menyangkut keturunan di masa depan.

Seorang pria juga wajib menuliskan kondisi keuangannya dengan jujur, meskipun tidak ideal. Seorang perempuan harus diberi pilihan — menikah dengannya dan bersama-sama menghadapi kesulitan serta membangun harta, atau mencari suami yang lebih mampu secara finansial.
Bertakwalah kepada Allah dan ingat sabda Nabi ﷺ:
«Orang yang berdusta bukan termasuk golongan kami.» (Muslim)
5. Jangan memperpanjang korespondensi agar tidak menimbulkan keterikatan emosional atau jatuh cinta. Jika dari jawaban sudah jelas bahwa kalian cocok, lakukan salat istikharah, lalu lanjutkan pembahasan syarat nikah dengan wali dan tentukan tanggal pernikahan.
Jika Anda merasa tidak cocok atau tidak menyukai kandidat tersebut, segera dan dengan sopan hentikan komunikasi.
6. Jangan berkorespondensi dengan banyak kandidat secara bersamaan, terlebih dengan memberi mereka harapan. Lebih baik fokus pada satu orang. Cari tahu semua yang perlu diketahui dan putuskan apakah kalian cocok. Jika tidak, barulah mulai korespondensi baru dengan kandidat lain. Nikah adalah perkara serius.
7. Jika dalam korespondensi terungkap sebuah rahasia, misalnya lawan bicara dengan jujur menceritakan penyakit atau kesulitannya, maka sama sekali tidak boleh menceritakannya kepada siapa pun! Rasulullah ﷺ bersabda:
«Jika seseorang menyampaikan sesuatu kepadamu lalu ia menoleh (seakan merahasiakannya), maka itu adalah amanah.» (Abu Dawud, Tirmidzi)
Selain itu, bergosip dan membicarakan lawan bicara di luar platform adalah hal yang tidak dibenarkan. Allah ﷻ memperingatkan:
«Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.» (QS. Al-Hujurat: 12)
8. Berhati-hatilah untuk tidak memberikan kontak Anda di jejaring sosial lain. Seseorang mungkin berkata bahwa berkomunikasi lewat WhatsApp atau aplikasi lain akan lebih mudah dan cepat. Jangan percaya! Komunikasi seperti itu akan mengarah pada khalwat yang terlarang dan melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya, atau Anda bisa menjadi korban penipuan dan penipu pernikahan.
Wahai para saudari Muslimah, jangan sekali-kali (!) memberikan alamat rumah Anda. Jika lawan bicara ingin bertemu, berikan kontak wali Anda. Biarkan mereka menghubungi, bertemu, dan menyepakati nikah. Dengan begitu, Anda tetap berada di jalan yang benar.

Ingatlah bahwa nikah tanpa wali dianggap tidak sah. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang hal ini dalam artikel terkait. Jika Anda tidak memiliki wali dari kalangan kerabat — karena yatim piatu, masuk Islam sendiri, atau tinggal di wilayah non-Muslim — maka wali Anda bisa berupa pemimpin komunitas Islam, imam, atau seorang Muslim yang dihormati dan Anda percayai. Penjelasan lebih lanjut tersedia di sini.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam korespondensi. Sebelum menulis apa pun, periksa niat di dalam hati Anda. Apakah pertanyaan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi demi nikah? Jika iya, silakan menulis tanpa ragu.
Dan ingatlah:
«Apa saja yang ada di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.» (QS. Al-Hadid: 57:4).


