Pertanyaan wajib dari calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita

Daftar isi
    Add a header to begin generating the table of contents

    Menikah adalah tahap yang serius dan penuh tanggung jawab dalam hidup kita. Ini adalah penciptaan negara kecil Anda sendiri yang disebut “Keluarga”, di mana Anda akan menjadi kepala rumah tangga atas kehendak Yang Maha Kuasa.

    Rabb kita berfirman dalam Al-Qur’an:

    “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Surah Ar-Rum, ayat 21).

    Pernikahan adalah jalan para rasul. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

    “Menikahlah! Karena pada Hari Kiamat aku akan berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lain” (al-Bukhari).

    Mengapa penting untuk mengajukan pertanyaan?

    Kami memahami betapa mendebarkannya momen perkenalan. Sering kali ketika para akh menemukan perempuan yang tepat, mereka tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Banyak yang merasa malu atau takut menyinggung dengan pertanyaan yang dianggap terlalu terbuka.

    Di sini Anda perlu mengingat: tujuan Anda adalah menemukan seorang istri yang bukan hanya akan menjadi ibu bagi anak-anak Anda kelak, tetapi juga menjadi pendamping hidup yang dicintai dengan pandangan dan prinsip yang sejalan.

    Membahas topik-topik abstrak, seperti peristiwa dunia, hanya akan membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk percakapan yang produktif. Ajukan pertanyaan yang spesifik. Tidak ada yang memalukan dalam hal itu. Justru sebaliknya, Anda menegaskan niat serius Anda untuk nikah.

    Jangan takut mengajukan pertanyaan langsung

    Bagaimana Anda bisa mengenal seseorang, sifat-sifatnya, pandangannya, keluarganya, jika Anda tidak bertanya secara langsung? Bagaimana jika perempuan tersebut memiliki masalah serius dengan kesehatan, keluarga, atau utang keuangan? Semua ini perlu diketahui sebelum nikah. Jika tidak, ada kemungkinan besar timbul kekecewaan, bahkan perceraian, akibat informasi yang tidak disampaikan.

    Pernah ada kasus ketika seorang akh dipuji berlebihan oleh calon istrinya. Ia mempercayai kenalannya dan tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Setelah menikah, ternyata istrinya adalah seorang mualaf dengan pengetahuan Islam yang sangat terbatas. Sayangnya, mereka tidak dapat hidup rukun dan bercerai sebulan kemudian. Ketika “penasihat baik” itu ditanya mengapa mereka diam, mereka berkata bahwa niat mereka hanya baik.

    Sebagaimana Anda lihat, pertanyaan yang diajukan dengan benar kepada calon istri adalah kunci untuk membangun keluarga yang kuat.

    Jangan bersikap sembrono

    Apakah banyak orang yang secara spontan membeli rumah atau apartemen tanpa mempelajari kelebihan dan kekurangan bangunan serta lingkungan sekitarnya? Tentu tidak. Biasanya dibutuhkan waktu untuk menemukan tempat tinggal yang baik. Begitu pula dengan pernikahan.

    Kami berusaha membantu Anda menemukan pasangan potensial, sehingga kami tidak menganggap enteng topik ini. Jika Anda menyadari bahwa Anda belum siap membangun keluarga, kami dengan senang hati akan menunggu Anda kembali ke situs kami di lain waktu.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menanggung nafkah, hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya” (al-Bukhari, Muslim).

    Jika Anda serius, kami telah menyusun daftar pertanyaan khusus untuk Anda yang akan membantu mengenal agama dan karakter calon istri sejak awal. Mengapa agama didahulukan? Karena perempuan yang jauh dari pelaksanaan kewajiban agama sering kali hidup dengan “aturan mereka sendiri” dan dapat membolehkan hal-hal yang tidak diizinkan oleh Allah. Akibatnya, mereka bisa menjadi keras kepala dan lalai.

    Whosoever of you is able to maintain a wife
    Barang siapa di antara kalian yang mampu menanggung nafkah seorang istri

    Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

    “Perempuan dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung!” (al-Bukhari, Muslim).

    Apa yang sebaiknya ditanyakan kepada calon istri?

    1. Sudah berapa tahun ia menunaikan salat?

    Yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan salat, bukan sekadar masuk Islam atau lahir di keluarga Muslim. Karena sebagian orang lahir di keluarga “Muslim etnis” tetapi baru mulai menjalankan kewajiban agama belakangan ini.

    2. Bagaimana ia menjalankan perintah-perintah agama?

    Biarkan ia menjawab pertanyaan terbuka ini terlebih dahulu. Jika ia kesulitan, Anda dapat memberi petunjuk: bentuk ibadah apa yang ia lakukan, seberapa sering, dan dari mana ia mempelajari tata caranya.

    3. Apakah ia bisa membaca Al-Qur’an?

    Cari tahu sejauh mana keinginannya untuk menuntut ilmu dan mendapatkan pahala dari membaca Al-Qur’an dengan benar.

    4. Seberapa sering ia membaca Al-Qur’an?

    Kecintaan dan keinginan terhadap Al-Qur’an menunjukkan kecintaan kepada Allah.

    5. Bagaimana sikapnya terhadap keluarganya?

    Allah memerintahkan untuk menjaga silaturahmi, yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Memutusnya membawa banyak keburukan. Jika ia tidak bisa rukun dengan keluarganya, bagaimana ia akan rukun dengan keluarga Anda?

    6. Bagaimana sikap keluarganya terhadap ketaatannya beragama dan terhadap Islam secara umum?

    Ini menunjukkan seberapa loyal atau justru bermusuhan kerabatnya terhadap praktik agama dan Islam.

    7. Bagaimana hubungannya dengan tetangga, saudari-saudarinya, dan orang lain?

    Cari tahu apakah ia menghormati hak-hak orang lain.

    8. Bagaimana pandangannya tentang hubungan dengan calon suaminya?

    Dengarkan dengan sangat saksama dan, bila perlu, ajukan pertanyaan lanjutan.

    9. Berapa banyak anak yang ingin ia miliki?

    Ketahui prioritasnya terkait jumlah anak. Ada perempuan yang tidak ingin memiliki anak sama sekali, atau hanya satu atau dua.

    10. Apa yang akan ia lakukan jika suaminya tidak puas atau marah kepadanya?

    Perhatikan tindakannya dalam situasi kehidupan nyata yang hampir semua keluarga alami, terutama di tahun-tahun awal.

    11. Apakah ia mampu bersabar jika suatu saat Allah menetapkan rezeki yang sempit?

    Apakah ia akan bersabar atas kesulitan dan kekurangan, atau justru mengeluh dan menyalahkan suaminya?

    12. Apakah ia akan bersikap hormat dan sabar terhadap keluarga suaminya?

    Dengan mengucapkannya, ia meningkatkan peluang untuk menepatinya. Jika suatu saat ia tidak melakukannya, Anda dapat mengingatkannya bahwa ia pernah berjanji.

    13. Apakah orang tuanya atau kerabat lain akan ikut campur dalam urusan keluarganya?

    Pertanyaan yang sangat penting, karena banyak masalah keluarga muncul akibat “nasihat baik” dari kerabat.

    14. Bagaimana pandangannya tentang ibadah tambahan (puasa sunnah, sedekah, salat malam)?

    Jika ia melakukannya, ia akan menyebutkannya. Jika tidak, dengarkan sikapnya terhadap ibadah sunnah dan niatnya ke depan.

    15. Apa arti ketaatan kepada suami baginya?

    Bandingkan pemahamannya dengan pandangan Anda: apakah sejalan?

    16. Bagaimana ia melihat perannya dalam keluarga?

    Biarkan ia menjawab secara bebas. Jika sulit, beri contoh: ibu rumah tangga, wanita karier, pendamping suami, dan sebagainya.

    17. Apa yang akan ia lakukan jika suaminya meninggalkan pekerjaan tetap dan memulai usaha dengan penghasilan tidak menentu?

    Cari tahu apakah ia akan mendukung suaminya dalam ide dan usahanya, termasuk yang berisiko.

    18. Bagaimana ia membayangkan anak-anaknya kelak?

    Ini menunjukkan prioritasnya dan apa yang ingin ia tanamkan kepada anak-anaknya.

    19. Bagaimana sikapnya terhadap menuntut ilmu?

    Apakah ia ingin mendalami ilmu agama? Apakah ia akan mendukung Anda jika ingin menuntut ilmu ke luar negeri? Bagaimana dan apa yang akan ia ajarkan kepada anak-anaknya?

    20. Apa akidahnya?

    Pastikan kesamaan pandangan dalam masalah-masalah agama, karena perbedaan besar dapat berujung pada konflik hingga perceraian.

    21. Kajian siapa yang ia dengarkan dan dari mana ia mendapatkan ilmunya?

    Ini secara tidak langsung menunjukkan manhaj dan keyakinannya.

    22. Apakah ia memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau sulit diobati (HIV, hepatitis, TBC, dll.)?

    Ini bukan berarti tidak boleh menikahinya, tetapi lebih baik mengetahui hal ini terlebih dahulu untuk mengambil keputusan yang sadar.

    23. Apakah ia pernah memiliki masalah dengan pemerintah (dipenjara, buronan, dan sebagainya)?

    Mengetahui hal ini sebelumnya membantu Anda membuat keputusan yang matang.

    24. Utang dan kewajiban apa yang ia miliki?

    Jika ada, Anda mungkin perlu membantu melunasinya atau mencari solusi bersama.


    Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan membantu Anda menyimpulkan apakah saudari seiman tersebut cocok menjadi istri, atau sebaiknya komunikasi dihentikan.

    Semoga Allah segera mempertemukan Anda dengan seseorang yang mendekatkan Anda kepada-Nya dan menjadi penyejuk jiwa di dunia dan akhirat.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah pasangan hidup yang saleh, maka sungguh Allah telah menolongnya untuk meraih setengah dari agama. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lainnya” (al-Hakim).

    Semoga Allah Ta‘ala menolong Anda dalam membuat pilihan yang benar. Aamiin!

    Ikuti kami di media sosial

    Baca juga