10 Kesalahpahaman Umum tentang Pernikahan dalam Islam

Daftar isi
    Add a header to begin generating the table of contents

    Pernikahan Muslim sering disalahpahami oleh banyak orang. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan ini tidak adil bagi perempuan, dan ada pula yang menganggapnya terlalu membatasi. Namun, anggapan tersebut tidaklah benar.

    Islam mengajarkan bahwa pernikahan harus dipenuhi dengan cinta, rasa hormat, dan kasih sayang. Pernikahan adalah sebuah kemitraan, bukan permainan kekuasaan. Sayangnya, banyak orang mencampuradukkan budaya dengan agama, dan hal inilah yang menimbulkan kebingungan.

    Apa yang Sebenarnya Dikatakan Islam Tentang Pernikahan?

    Berikut beberapa rujukan dari hadis & Al-Qur’an tentang pernikahan dalam Islam:

    وَمِنْ اٰيٰتِہٖۗ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۗا اِلَيْہَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّۃً وَّرَحْمَۃً۝۰ۭ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّــقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ۝۲۱

    Salah satu tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir. (Qur’an 30:21)

    Ayat ini memberi tahu kita bahwa Allah menjadikan suami dan istri satu sama lain agar mereka dapat hidup dalam ketenangan serta memiliki cinta dan rahmat. Pernikahan dalam Islam tidak dimaksudkan untuk membuat stres — melainkan seharusnya menenangkan, seperti pelukan hangat bagi jiwa.

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ

    Bahwa Rasulullah () bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap istriku, dan apabila teman kalian meninggal maka biarkanlah dia.” (Sunan al-Tirmidhi 3895)

    Nabi Muhammad (shalawat dan salam atas beliau) bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang lembut dan penuh kasih terhadap istrinya. Jadi, Muslim yang baik adalah suami yang baik.

    Sekarang, mari kita luruskan 10 mitos teratas — dan ungkap realitas di balik masing-masing:

    1. Mitos: Perempuan Dipaksa Menikah dalam Islam

    حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، حَدَّثَهُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ “. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ ” أَنْ تَسْكُتَ “.

    Nabi () bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dimintai pendapatnya; dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah izinnya.” Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah ()! Bagaimana kami mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Diamnya (menandakan izinnya).” (Sahih al-Bukhari 5136)

    Hadis ini menunjukkan bahwa seorang perempuan harus ditanya sebelum pernikahannya. Bahkan jika ia tidak berkata apa-apa, diamnya hanya dipahami sebagai persetujuan ketika ia berada dalam keadaan aman dan nyaman. Islam tidak pernah mendukung pemaksaan siapa pun untuk menikah.

    2. Mitos: Laki-laki Muslim Bisa Menikahi Empat Istri Kapan Saja

    وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِي الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۗءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ۝۰ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَۃً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ۝۰ۭ ذٰلِكَ اَدْنٰۗى اَلَّا تَعُوْلُوْا۝۳ۭ

    Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak perempuan yatim (yang ada dalam asuhanmu, atau khawatir menyalahgunakan mereka), maka nikahilah perempuan-perempuan yang halal bagimu: dua, tiga, atau empat; tetapi jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) satu saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. Itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim. (Qur’an 4:3)

    Ayat ini menjelaskan bahwa jika seorang laki-laki mampu bersikap setara dan adil kepada lebih dari satu istri, ia boleh menikah hingga empat. Namun jika tidak mampu — dan keadilan itu nyaris mustahil — maka ia hanya menikahi satu. Ini soal tanggung jawab dan keadilan — bukan soal “mengoleksi” istri.

    3. Mitos: Perempuan Tidak Punya Pilihan dalam Menentukan Suami

    Istri Nabi, Khadijah, justru meminta beliau untuk menikahinya. Islam menghormati suara seorang perempuan. Tidak seorang pun boleh menikahkannya tanpa persetujuan yang jelas. Perasaannya penting.

    4. Mitos: Suami Adalah Bos dan Istri Harus Menuruti Segalanya

    اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَۃَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۗىِٕكُمْ۝۰ۭ ھُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّہُنَّ۝۰ۭ

    Kamu dihalalkan berhubungan dengan istri-istrimu pada malam-malam puasa: mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.
    (Qur’an 2:187)

    Ayat ini menunjukkan bahwa suami dan istri saling melindungi dan menenangkan — sebagaimana pakaian melindungi tubuh. Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Pernikahan dalam Islam adalah tentang saling merawat, bukan mengontrol.

    5. Mitos: Perceraian Diharamkan dalam Islam

    Perceraian diperbolehkan jika pasangan tidak bisa rukun, bahkan setelah berusaha memperbaiki hubungan. Islam menganjurkan perceraian sebagai pilihan terakhir, tetapi bukan sesuatu yang memalukan. Perempuan juga dapat mengajukan perceraian melalui proses yang disebut khula.

    Nabi (shalawat dan salam atas beliau) mengabulkan permohonan khula, yang menunjukkan bahwa ada jalan keluar bagi laki-laki maupun perempuan jika keadaan benar-benar buruk.

    6. Mitos: Perempuan Muslim dapat menikah dengan non-Muslim

    Dalam Islam, agama memang berpengaruh dalam pernikahan. Seorang perempuan Muslim dianjurkan menikah dengan laki-laki Muslim agar mereka berbagi nilai yang sama. Hal ini membantu membangun rumah tangga yang kuat dan damai, di mana kedua orang tua mendukung pendidikan Islam bagi anak-anak. Ini bukan soal merasa lebih unggul — melainkan soal keharmonisan spiritual.

    7. Mitos: Pernikahan dalam Islam Hanya Soal Aturan dan Kewajiban

    حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُرَشِيُّ الْيَمَامِيُّ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو زُمَيْلٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

    Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah; memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah; dan menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat di suatu negeri adalah sedekah bagimu. (Jami` at-Tirmidhi 1956)

    Hadis ini mengajarkan bahwa bahkan tersenyum pun adalah amal saleh. Itu termasuk tersenyum kepada pasangan juga! Islam menginginkan pasangan untuk saling berbuat baik — bercanda, tertawa, bermain, dan saling mencintai.

    Nabi pernah berlomba lari dengan istrinya Aisyah (RA) dan menggoda beliau dengan penuh kasih. Cinta bukan hanya dibolehkan dalam Islam — ia juga diberi ganjaran.

    8. Mitos: Pernikahan dalam Islam Hanya untuk Memiliki Anak

    وَمِنْ اٰيٰتِہٖۗ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۗا اِلَيْہَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّۃً وَّرَحْمَۃً۝۰ۭ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّــقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ۝۲۱

    Salah satu tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir. (Qur’an 30:21)

    Ayat ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah untuk ketenangan batin, bukan semata-mata untuk anak. Meskipun anak adalah nikmat, pasangan yang belum dikaruniai anak tetap dapat memiliki pernikahan yang utuh, bahagia, dan diberkahi dalam Islam.

    9. Mitos: Suami Boleh Memukul Istri

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي ذُبَابٍ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” لاَ تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللَّهِ ” . فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ ذَئِرَ النِّسَاءُ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ فَأْمُرْ بِضَرْبِهِنَّ . فَضُرِبْنَ فَطَافَ بِآلِ مُحَمَّدٍ ـ صلى الله عليه وسلم ـ طَائِفُ نِسَاءٍ كَثِيرٍ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ ” لَقَدْ طَافَ اللَّيْلَةَ بِآلِ مُحَمَّدٍ سَبْعُونَ امْرَأَةً كُلُّ امْرَأَةٍ تَشْتَكِي زَوْجَهَا فَلاَ تَجِدُونَ أُولَئِكَ خِيَارَكُمْ ” .

    Nabi bersabda: ‘Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.’ Lalu ‘Umar datang kepada Nabi dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, para perempuan telah menjadi berani terhadap suami-suami mereka? Maka perintahkanlah untuk memukul mereka,’ lalu mereka dipukul. Kemudian banyak perempuan mendatangi keluarga Muhammad. Keesokan harinya beliau bersabda: ‘Tadi malam tujuh puluh perempuan datang kepada keluarga Muhammad, masing-masing mengadukan suaminya. Kalian tidak akan mendapati mereka itu sebagai orang-orang terbaik di antara kalian.’ (Sunan Ibn Majah 1985)

    Sebagian orang salah memahami sebuah ayat untuk membenarkan kekerasan. Namun Nabi sendiri tidak pernah memukul satu pun dari istri-istrinya. Beliau memerintahkan laki-laki untuk bersikap lembut dan menghormati perempuan. Segala bentuk kekerasan adalah haram (terlarang) dan bertentangan dengan semua ajaran Islam.

    10. Mitos: Pernikahan Islam Sudah Ketinggalan Zaman

    Islam mengajarkan pasangan untuk saling menghormati, memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas, bersikap baik satu sama lain, serta membangun kedekatan emosional. Semua itu adalah hal yang tetap diinginkan orang dalam hubungan yang sukses, kapan pun dan di mana pun. Jadi, pernikahan Islam bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman — ia memberi panduan yang relevan di setiap era.

    Pemikiran Akhir

    Pernikahan Islam adalah sistem yang indah, dibangun di atas rahmat, cinta, dan keadilan. Ketika kita membaca Al-Qur’an dan hadis, kita melihat bahwa Islam memberikan hak dan martabat kepada laki-laki maupun perempuan. Mari berhenti menilainya dari judul berita atau kebiasaan budaya setempat. Mari kembali kepada sumber aslinya — dan sebarkan kebenaran, bukan mitos.

    Penulis: Dur-e-Sabih

    Ikuti kami di media sosial

    Baca juga